Loncat ke konten
Infrastruktur IT

Monolith vs Microservices: Apakah Aplikasi Anda Benar-Benar Membutuhkan Microservices?

Monolith dan microservices memiliki kelebihan dan trade-off masing-masing. Tidak semua aplikasi membutuhkan microservices sejak awal. Pelajari cara menentukan arsitektur berdasarkan kompleksitas bisnis, kebutuhan scaling, ukuran tim, deployment, dan kesiapan infrastruktur agar aplikasi tidak mengalami overengineering.

Mr. DhaivanMr. Dhaivan· Fullstack Developer
02 Okt 202615 min baca
Bagikan
Monolith vs Microservices: Apakah Aplikasi Anda Benar-Benar Membutuhkan Microservices?

Dalam dunia software development, microservices sering dianggap sebagai salah satu standar arsitektur aplikasi modern.

Ketika sebuah project mulai berkembang, muncul pertanyaan:

"Apakah aplikasi kita harus menggunakan microservices?"

Jawabannya tidak selalu.

Microservices memang memiliki berbagai kelebihan, terutama untuk sistem dengan skala dan kompleksitas tertentu. Namun, menerapkannya terlalu awal juga dapat menambah kompleksitas yang sebenarnya belum dibutuhkan.

Untuk banyak aplikasi bisnis, monolith yang dirancang dengan baik masih menjadi pilihan yang sangat masuk akal.

Jadi, sebelum memilih arsitektur, pertanyaan yang lebih tepat bukan:

"Mana yang lebih modern?"

Tetapi:

"Arsitektur mana yang paling sesuai dengan kebutuhan aplikasi kita?"


Apa Itu Monolith?

Monolith adalah pendekatan di mana berbagai fungsi utama aplikasi berada dalam satu application codebase dan umumnya dideploy sebagai satu kesatuan.

Contohnya aplikasi bisnis memiliki:

Application
│
├── Authentication
├── Customer / CRM
├── Sales
├── Project
├── Accounting
├── HR
└── Reporting

Semua modul tersebut berada dalam satu aplikasi.

Bukan berarti setiap bagian harus bercampur.

Monolith yang baik tetap dapat menggunakan pendekatan modular sehingga setiap domain memiliki batas yang jelas.

Contohnya:

app/
├── Domains/
│   ├── CRM/
│   ├── Sales/
│   ├── Project/
│   ├── Accounting/
│   └── HR/

Pendekatan seperti ini sering disebut modular monolith.


Apa Itu Microservices?

Microservices menggunakan pendekatan yang memecah aplikasi menjadi beberapa service yang dapat dikembangkan dan dideploy secara relatif independen.

Contohnya:

                    API Gateway
                         │
        ┌────────────────┼────────────────┐
        ↓                ↓                ↓
   User Service     Sales Service    Project Service
        │                │                │
        ↓                ↓                ↓
    Database A       Database B       Database C

Setiap service memiliki tanggung jawab tertentu.

Misalnya:

User Service

Menangani:

  • Authentication

  • User profile

  • Permission

Sales Service

Menangani:

  • Lead

  • Opportunity

  • Sales pipeline

Project Service

Menangani:

  • Project

  • Task

  • Project execution

Dengan pendekatan tersebut, setiap service dapat memiliki lifecycle dan deployment yang lebih independen.


Apakah Microservices Selalu Lebih Baik?

Tidak.

Microservices bukanlah versi "lebih tinggi" dari monolith.

Keduanya adalah pendekatan arsitektur dengan trade-off yang berbeda.

Monolith memiliki:

  • Deployment yang lebih sederhana

  • Development yang relatif lebih mudah

  • Debugging lebih sederhana

  • Infrastruktur lebih sedikit

Microservices memiliki:

  • Service yang lebih terisolasi

  • Deployment yang dapat lebih independen

  • Scaling yang dapat dilakukan per service

  • Ownership domain yang lebih jelas pada organisasi besar

Tetapi microservices juga membawa kompleksitas tambahan.


Kompleksitas yang Datang Bersama Microservices

Ketika aplikasi dipecah menjadi beberapa service, komunikasi antar bagian aplikasi juga menjadi lebih kompleks.

Misalnya:

Frontend
   ↓
API Gateway
   ↓
Order Service
   ↓
Payment Service
   ↓
Notification Service

Jika Payment Service mengalami masalah, apa yang terjadi pada Order Service?

Bagaimana jika network timeout?

Bagaimana jika request berhasil diproses tetapi response tidak sampai?

Bagaimana cara melakukan retry?

Bagaimana memastikan transaksi tetap konsisten?

Pertanyaan seperti ini mulai muncul ketika aplikasi menggunakan distributed architecture.


Distributed System Membawa Masalah Baru

Dalam monolith:

Controller
   ↓
Service
   ↓
Database

Semuanya dapat berada dalam satu environment.

Dalam microservices:

Service A
    ↓
Network
    ↓
Service B
    ↓
Network
    ↓
Service C

Sekarang network menjadi bagian dari sistem.

Artinya kita perlu mempertimbangkan:

  • Timeout

  • Retry

  • Circuit breaker

  • Service discovery

  • Authentication antar-service

  • Distributed tracing

  • Centralized logging

  • Monitoring

  • Message queue

Arsitektur menjadi lebih kompleks.


Modular Monolith Bisa Menjadi Jalan Tengah

Jika aplikasi masih dalam tahap awal atau tim masih kecil, modular monolith dapat menjadi pendekatan yang menarik.

Contohnya:

Application
│
├── CRM
│   ├── Controllers
│   ├── Services
│   ├── Models
│   └── Policies
│
├── Project
│   ├── Controllers
│   ├── Services
│   ├── Models
│   └── Policies
│
└── Accounting
    ├── Controllers
    ├── Services
    ├── Models
    └── Policies

Setiap modul memiliki batas tanggung jawab yang jelas, tetapi aplikasi tetap dideploy sebagai satu kesatuan.

Keuntungannya:

  • Lebih sederhana

  • Mudah dikembangkan

  • Mudah dideploy

  • Lebih mudah debugging

  • Cocok untuk tim kecil dan menengah

  • Tetap memiliki struktur domain yang jelas

Ketika salah satu modul nantinya membutuhkan scaling atau deployment independen, modul tersebut dapat dievaluasi untuk dipisahkan.


Kapan Monolith Lebih Masuk Akal?

Monolith dapat menjadi pilihan yang sesuai ketika:

1. Tim Masih Kecil

Misalnya hanya terdapat:

  • 1–5 developer

  • 1 DevOps

  • Infrastruktur terbatas

Mengelola banyak service dapat menambah beban operasional.


2. Product Masih Berkembang

Pada tahap awal, requirement aplikasi sering berubah.

Hari ini:

CRM

Bulan depan:

CRM + Project

Kemudian:

CRM + Project + Accounting + HR

Memisahkan service terlalu awal dapat membuat perubahan requirement menjadi lebih sulit.


3. Traffic Belum Membutuhkan Independent Scaling

Misalnya seluruh aplikasi memiliki traffic yang relatif seimbang.

Tidak ada kebutuhan untuk melakukan:

CRM → 2 instance

Accounting → 20 instance

HR → 1 instance

Jika kebutuhan scaling belum berbeda secara signifikan, memisahkan service mungkin belum memberikan manfaat yang cukup.


4. Deployment Harus Sederhana

Jika aplikasi cukup:

git pull
composer install
npm build
php artisan migrate
restart worker

maka deployment masih relatif sederhana.

Dengan microservices, proses deployment dapat menjadi:

Deploy Service A
Deploy Service B
Deploy Service C
Deploy Service D
Update Gateway
Update Configuration
Update Monitoring

Kompleksitas operasional meningkat.


Kapan Microservices Mulai Relevan?

Microservices mulai layak dipertimbangkan ketika terdapat kebutuhan yang jelas.

Contohnya:

1. Domain Sangat Kompleks

Sistem memiliki banyak domain bisnis dengan tanggung jawab yang berbeda.

Misalnya:

Identity
Billing
Payment
Order
Inventory
Notification
Analytics

Jika batas domain sudah sangat jelas, pemisahan service dapat membantu organisasi sistem.


2. Scaling Setiap Domain Berbeda

Misalnya:

Order Service
100 requests/sec

Search Service
10.000 requests/sec

Jika keduanya berada dalam satu aplikasi dan harus scaling bersama, resource bisa menjadi tidak efisien.

Microservices memungkinkan service tertentu di-scale secara independen.


3. Tim Engineering Besar

Microservices lebih masuk akal ketika organisasi memiliki beberapa tim yang dapat memiliki ownership terhadap service tertentu.

Contohnya:

Team A → Identity
Team B → Payment
Team C → Order
Team D → Analytics

Setiap tim dapat memiliki lifecycle dan tanggung jawab yang lebih jelas.


4. Deployment Per Service Diperlukan

Jika satu bagian aplikasi harus dirilis beberapa kali sehari sementara bagian lain stabil, independent deployment dapat memberikan manfaat.

Namun, kebutuhan ini harus benar-benar ada.


Microservices Membutuhkan Infrastruktur yang Lebih Matang

Sebelum menggunakan microservices, pastikan organisasi siap dengan beberapa komponen pendukung.

Monitoring

Harus dapat mengetahui:

Request
 ↓
Service A
 ↓
Service B
 ↓
Service C

Jika terjadi error, kita harus mengetahui service mana yang bermasalah.

Logging

Log dari banyak service perlu dikumpulkan agar dapat dianalisis secara terpusat.

Tracing

Distributed tracing membantu mengetahui perjalanan sebuah request antar-service.

Queue

Beberapa komunikasi antar-service mungkin menggunakan asynchronous processing.

Deployment

Diperlukan mekanisme deployment yang konsisten dan dapat diulang.

Microservices bukan hanya perubahan pada source code.

Ini adalah perubahan pada cara sistem dioperasikan.


Jangan Memulai Microservices Hanya untuk "Future Proof"

Salah satu alasan yang sering digunakan adalah:

"Nanti aplikasi kita akan besar."

Masalahnya, kita tidak selalu tahu bagaimana aplikasi akan berkembang.

Jika aplikasi saat ini hanya memiliki:

  • 100 user

  • 5 developer

  • 1 server

  • 10 modul

  • traffic rendah

membangun puluhan microservices mungkin justru membuat development lebih lambat.

Lebih baik membangun arsitektur yang dapat berkembang daripada membangun kompleksitas sebelum dibutuhkan.


Bagaimana dengan Scalability?

Scalability tidak hanya berarti menggunakan microservices.

Monolith juga dapat di-scale.

Contohnya:

             Load Balancer
                  │
        ┌─────────┼─────────┐
        ↓         ↓         ↓
    App Server App Server App Server
        │         │         │
        └─────────┼─────────┘
                  ↓
              Database

Aplikasi monolith dapat memiliki beberapa instance.

Caching, queue, database optimization, CDN, dan horizontal scaling juga dapat meningkatkan kapasitas aplikasi.

Jadi:

Scalability ≠ Microservices

Microservices adalah salah satu pendekatan untuk scalability, bukan satu-satunya cara.


Bagaimana Menentukan Pilihan?

Gunakan beberapa pertanyaan berikut.

Pertanyaan 1

Apakah aplikasi benar-benar membutuhkan independent scaling?

Jika belum, monolith mungkin sudah cukup.

Pertanyaan 2

Apakah domain bisnis sudah memiliki batas yang sangat jelas?

Jika belum, memisahkannya terlalu awal dapat menyulitkan.

Pertanyaan 3

Apakah tim mampu mengoperasikan distributed system?

Jika belum, kompleksitas microservices perlu dipertimbangkan.

Pertanyaan 4

Apakah deployment independen benar-benar diperlukan?

Jika tidak, manfaat microservices mungkin belum signifikan.

Pertanyaan 5

Apakah infrastructure sudah siap?

Pertimbangkan:

  • Monitoring

  • Logging

  • Tracing

  • CI/CD

  • Service discovery

  • Security

  • Backup

  • Disaster recovery

Jika banyak jawabannya belum, jangan menganggap microservices sebagai default.


Decision Framework Sederhana

Gunakan prinsip berikut:

                Start
                  │
                  ↓
          Pahami Requirement
                  │
                  ↓
       Apakah domain sangat kompleks?
             /          \
           Tidak         Ya
            ↓             ↓
        Monolith      Evaluasi domain
            │             │
            ↓             ↓
    Apakah scaling      Apakah scaling
    perlu terpisah?    berbeda signifikan?
       /      \           /       \
     Tidak    Ya        Tidak      Ya
      ↓        ↓          ↓         ↓
  Monolith   Evaluasi  Monolith  Microservices

Diagram tersebut bukan aturan mutlak.

Tujuannya adalah mengingatkan bahwa microservices seharusnya muncul dari kebutuhan, bukan menjadi default architecture.


Contoh untuk Aplikasi Bisnis

Bayangkan sebuah perusahaan ingin membangun:

Business Management System

Dengan modul:

CRM
Project
Accounting
HR
Inventory

Untuk tahap awal, pendekatan seperti:

Laravel
+
React / Inertia
+
MySQL
+
Redis

dengan modular architecture mungkin sudah cukup.

Contohnya:

app/
└── Domains/
    ├── CRM/
    ├── Project/
    ├── Accounting/
    ├── HR/
    └── Inventory/

Ketika aplikasi berkembang dan ditemukan bahwa:

Inventory → traffic sangat tinggi
Accounting → membutuhkan deployment berbeda
Notification → asynchronous processing sangat besar

barulah dilakukan evaluasi apakah bagian tertentu perlu dipisahkan.

Ini disebut pendekatan evolutionary architecture.

Arsitektur berkembang mengikuti kebutuhan.


Jangan Takut Memulai dari Monolith

Memulai dari monolith bukan berarti aplikasi akan selamanya menjadi monolith.

Yang penting adalah membuat batas domain yang jelas sejak awal.

Misalnya:

CRM
Project
Accounting
HR

masing-masing memiliki tanggung jawab sendiri.

Kemudian dependency antar-modul dikontrol dengan baik.

Dengan pendekatan tersebut, jika suatu saat modul tertentu perlu dipisahkan, prosesnya akan lebih terarah.


Kesimpulan

Monolith dan microservices bukanlah perlombaan untuk menentukan teknologi mana yang lebih modern.

Keduanya memiliki tempat masing-masing.

Monolith dapat memberikan:

  • Development lebih sederhana

  • Deployment lebih mudah

  • Debugging lebih sederhana

  • Operasional lebih ringan

Microservices dapat memberikan:

  • Independent deployment

  • Independent scaling

  • Domain isolation

  • Ownership service yang lebih jelas

Tetapi microservices juga membawa konsekuensi berupa distributed system, network communication, monitoring, logging, tracing, deployment yang lebih kompleks, dan kebutuhan infrastructure yang lebih matang.

Karena itu, jangan bertanya:

"Apakah microservices lebih bagus?"

Pertanyaan yang lebih tepat adalah:

"Masalah apa yang ingin kita selesaikan dengan microservices?"

Jika belum ada masalah yang membutuhkan microservices, monolith yang modular dan terstruktur dengan baik dapat menjadi pilihan yang lebih sederhana dan rasional.

Mulai sederhana.

Bangun dengan struktur yang baik.

Monitor kebutuhan.

Kemudian tingkatkan kompleksitas ketika memang diperlukan.

Don't build a distributed system until you actually need one.


Butuh Bantuan Menentukan Arsitektur Aplikasi?

Notocoding Cipta Karya membantu bisnis merancang dan membangun software berdasarkan kebutuhan nyata, mulai dari analisis requirement, pemilihan tech stack, perancangan arsitektur, pengembangan aplikasi web/mobile, hingga digitalisasi proses bisnis.

Arsitektur aplikasi sebaiknya dirancang berdasarkan kebutuhan bisnis dan kemampuan tim, bukan sekadar mengikuti tren teknologi.

#Monolith vs Microservices#Software Architecture#Backend Development#Scalability#Web Development
Bagikan artikel ini