Loncat ke konten
Digitalisasi Bisnis

Baru Mulai Bisnis? 10 Hal yang Harus Disiapkan Sebelum Mencari Banyak Pelanggan

Memulai bisnis bukan hanya tentang mendapatkan banyak pelanggan, tetapi juga membangun fondasi yang siap mendukung pertumbuhan. Pelajari 10 hal penting yang perlu disiapkan bisnis owner pemula, mulai dari menentukan target pelanggan, produk, harga, keuangan, proses penjualan, hingga penggunaan teknologi dan digitalisasi sesuai kebutuhan bisnis.

Mr. ImamMr. Imam· Direktur Utama
04 Okt 20268 min baca
Bagikan
Baru Mulai Bisnis? 10 Hal yang Harus Disiapkan Sebelum Mencari Banyak Pelanggan

Memulai bisnis sering kali membuat pemilik usaha ingin segera mendapatkan banyak pelanggan. Promosi mulai dilakukan, media sosial dibuat, WhatsApp Business disiapkan, bahkan tidak sedikit yang langsung berpikir untuk membuat website atau aplikasi.

Namun, ada satu hal yang sering terlupakan: apakah bisnisnya sendiri sudah siap menerima banyak pelanggan?

Mendapatkan pelanggan memang penting. Tetapi jika fondasi bisnis belum siap, pertumbuhan yang terlalu cepat justru bisa menimbulkan masalah baru, mulai dari pelayanan yang tidak konsisten, pencatatan keuangan yang berantakan, data pelanggan yang hilang, hingga kesulitan mengelola pesanan.

Bagi bisnis yang baru dirintis, tidak perlu langsung memiliki sistem yang kompleks. Yang lebih penting adalah memastikan beberapa fondasi utama sudah dipersiapkan sejak awal.

Berikut 10 hal yang sebaiknya disiapkan sebelum bisnis mulai mengejar banyak pelanggan.

1. Tentukan Masalah yang Ingin Diselesaikan

Bisnis yang baik tidak hanya dimulai dari pertanyaan, "Apa yang ingin saya jual?"

Pertanyaan yang lebih penting adalah:

"Masalah apa yang ingin saya selesaikan untuk pelanggan?"

Misalnya, Anda ingin membuka jasa pembuatan website. Jangan hanya berpikir bahwa produk Anda adalah website.

Pelanggan sebenarnya mungkin membutuhkan:

  • bisnis terlihat lebih profesional;

  • mendapatkan pelanggan dari Google;

  • memiliki katalog produk online;

  • mempermudah calon pelanggan menghubungi mereka;

  • meningkatkan kepercayaan terhadap bisnis;

  • atau memiliki sistem yang membantu operasional.

Dengan memahami masalah pelanggan, Anda akan lebih mudah menentukan produk, layanan, harga, hingga strategi pemasaran.

Jangan menjual produk, tawarkan solusi

Bisnis yang hanya berfokus pada produk biasanya akan mudah masuk ke persaingan harga.

Sebaliknya, bisnis yang memahami masalah pelanggan dapat menawarkan solusi yang lebih bernilai.

Contohnya:

Kurang tepat:

"Kami menyediakan jasa pembuatan website."

Lebih kuat:

"Kami membantu bisnis membangun website profesional agar lebih mudah ditemukan calon pelanggan dan meningkatkan kepercayaan terhadap bisnis."

Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi cara berpikirnya sangat berbeda.

2. Kenali Siapa Target Pelanggan Anda

Kesalahan yang cukup sering dilakukan bisnis baru adalah ingin menjual kepada semua orang.

Padahal, semakin luas target yang dituju, semakin sulit menentukan cara berkomunikasi dengan mereka.

Cobalah tentukan:

  • Siapa calon pelanggan Anda?

  • Apa jenis bisnis atau pekerjaannya?

  • Berapa kisaran kemampuan belinya?

  • Apa masalah yang mereka hadapi?

  • Di mana mereka biasanya mencari informasi?

  • Apa alasan mereka membeli?

  • Apa yang membuat mereka ragu membeli?

Misalnya Anda menyediakan jasa digitalisasi.

Target "semua bisnis" terlalu luas.

Target yang lebih spesifik bisa berupa:

"UMKM dan bisnis jasa yang sudah memiliki pelanggan tetapi masih menggunakan pencatatan dan proses operasional secara manual."

Target seperti ini akan membantu Anda membuat penawaran dan konten pemasaran yang jauh lebih relevan.

3. Tentukan Produk atau Jasa Utama

Bisnis baru tidak harus memiliki banyak produk.

Justru pada tahap awal, terlalu banyak produk dapat membuat operasional menjadi sulit.

Mulailah dengan menentukan produk atau layanan utama yang benar-benar ingin Anda jual.

Misalnya bisnis jasa desain memiliki:

  • desain logo;

  • desain kemasan;

  • desain media sosial;

  • desain website;

  • branding.

Anda tidak harus langsung menjual semuanya.

Pilih satu atau beberapa layanan yang paling kuat, kemudian kembangkan secara bertahap.

Tujuannya adalah membuat bisnis memiliki fokus yang jelas.

Ketika pelanggan mengetahui dengan cepat apa yang Anda tawarkan, proses penjualan juga menjadi lebih mudah.

4. Buat Penawaran yang Mudah Dipahami

Calon pelanggan tidak seharusnya harus bertanya terlalu banyak hanya untuk mengetahui apa yang Anda jual.

Setidaknya, mereka harus bisa memahami:

Apa yang ditawarkan → untuk siapa → manfaatnya → berapa harganya atau bagaimana cara mendapatkannya.

Contohnya, daripada hanya menulis:

"Jasa Konsultasi Digital"

Anda bisa menjelaskan:

"Konsultasi digitalisasi untuk membantu bisnis mengidentifikasi proses manual yang dapat disederhanakan menggunakan sistem digital."

Kemudian tambahkan informasi seperti:

  • siapa yang cocok menggunakan layanan;

  • apa yang akan didapatkan;

  • bagaimana prosesnya;

  • estimasi waktu;

  • harga atau metode penawaran.

Semakin jelas penawaran Anda, semakin kecil kemungkinan calon pelanggan merasa bingung.

5. Tentukan Harga Berdasarkan Nilai, Bukan Sekadar Biaya

Menentukan harga merupakan salah satu tantangan terbesar bagi bisnis baru.

Banyak owner hanya menghitung:

modal + keuntungan = harga jual.

Perhitungan biaya memang penting, tetapi bukan satu-satunya pertimbangan.

Anda juga perlu mempertimbangkan:

  • nilai yang diterima pelanggan;

  • tingkat kesulitan pekerjaan;

  • waktu pengerjaan;

  • biaya operasional;

  • risiko;

  • kualitas layanan;

  • harga pasar;

  • dan posisi bisnis Anda.

Jangan terburu-buru menjadi bisnis dengan harga paling murah.

Harga murah memang dapat menarik perhatian, tetapi belum tentu menghasilkan bisnis yang sehat.

Lebih baik membangun alasan yang jelas mengapa pelanggan mendapatkan nilai dari harga yang Anda tawarkan.

6. Pisahkan Uang Pribadi dan Uang Bisnis

Ini merupakan salah satu hal yang sering dianggap sepele oleh owner baru.

Ketika bisnis masih kecil, mencampur uang pribadi dan uang bisnis mungkin terasa praktis.

Namun ketika transaksi mulai bertambah, Anda akan kesulitan menjawab pertanyaan sederhana:

"Sebenarnya bisnis saya untung atau tidak?"

Mulailah membedakan:

  • uang masuk dari pelanggan;

  • biaya operasional;

  • pembelian barang;

  • pembayaran vendor;

  • gaji atau kompensasi;

  • pengambilan pribadi owner;

  • dan keuntungan bisnis.

Tidak harus langsung menggunakan sistem akuntansi yang kompleks.

Yang terpenting adalah mulai mencatat sejak awal.

Data keuangan yang rapi akan menjadi dasar yang sangat penting ketika bisnis mulai berkembang.

7. Siapkan Identitas dan Kredibilitas Bisnis

Pelanggan tidak hanya membeli produk.

Mereka juga membeli kepercayaan.

Karena itu, bisnis baru perlu memiliki identitas yang jelas.

Minimal siapkan:

  • nama bisnis;

  • logo atau identitas visual;

  • nomor kontak bisnis;

  • alamat atau informasi lokasi jika relevan;

  • profil bisnis;

  • katalog produk atau layanan;

  • media sosial;

  • dan informasi legalitas sesuai kebutuhan bisnis.

Website juga dapat menjadi salah satu bagian dari kredibilitas bisnis.

Namun, website bukan berarti harus menjadi prioritas pertama untuk semua bisnis.

Yang lebih penting adalah memastikan setiap aset digital yang digunakan memiliki informasi yang konsisten dan mudah dipercaya.

8. Buat Proses Penjualan yang Sederhana

Jangan hanya memikirkan bagaimana mendapatkan pelanggan.

Pikirkan juga apa yang terjadi setelah seseorang tertarik.

Misalnya:

Calon pelanggan → bertanya → mendapatkan penawaran → follow-up → deal → pembayaran → pengerjaan → selesai → after-sales.

Proses sederhana seperti ini sebaiknya mulai Anda pikirkan sejak awal.

Mengapa?

Karena ketika jumlah pelanggan meningkat, Anda akan mulai kesulitan mengingat:

  • siapa yang sudah dihubungi;

  • siapa yang belum membalas;

  • siapa yang sudah menerima proposal;

  • siapa yang sudah membayar;

  • dan siapa yang perlu di-follow-up.

Pada tahap awal, spreadsheet atau pencatatan sederhana mungkin sudah cukup.

Ketika bisnis semakin berkembang, proses tersebut dapat dikembangkan menjadi CRM atau sistem bisnis yang lebih terintegrasi.

9. Mulai Kumpulkan dan Simpan Data Pelanggan

Setiap interaksi dengan pelanggan sebenarnya menghasilkan data.

Misalnya:

  • nama pelanggan;

  • nomor kontak;

  • produk yang diminati;

  • sumber pelanggan;

  • tanggal komunikasi;

  • status transaksi;

  • riwayat pembelian;

  • kebutuhan pelanggan;

  • dan catatan follow-up.

Jangan menunggu sampai memiliki ratusan pelanggan baru mulai mencatat.

Data pelanggan yang dikumpulkan sejak awal dapat membantu Anda memahami pola bisnis.

Anda dapat mengetahui:

Dari mana pelanggan datang?

Produk apa yang paling banyak diminati?

Berapa lama calon pelanggan biasanya sampai melakukan pembelian?

Pelanggan seperti apa yang paling sering melakukan pembelian ulang?

Semakin bisnis berkembang, data tersebut akan semakin bernilai.

10. Gunakan Teknologi Sesuai Kebutuhan, Bukan Karena Tren

Ini mungkin menjadi salah satu hal terpenting bagi bisnis yang baru mulai.

Ketika melihat bisnis lain menggunakan aplikasi, CRM, AI, ERP, dashboard, atau berbagai sistem digital, owner baru mungkin merasa bisnisnya juga harus memiliki semuanya.

Padahal belum tentu.

Teknologi seharusnya menyelesaikan masalah bisnis, bukan menjadi masalah baru.

Jika bisnis Anda masih memiliki lima pelanggan dan semua proses masih dapat dikelola dengan baik menggunakan spreadsheet, tidak perlu terburu-buru membangun sistem yang kompleks.

Namun jika mulai muncul masalah seperti:

  • data pelanggan semakin banyak;

  • pencatatan transaksi semakin sulit;

  • pekerjaan berulang semakin banyak;

  • banyak follow-up terlewat;

  • laporan membutuhkan waktu lama;

  • beberapa orang mulai mengakses data yang sama;

  • atau proses bisnis mulai membutuhkan otomatisasi;

maka teknologi mulai memiliki nilai yang lebih besar.

Mulai dari masalah, kemudian pilih teknologinya

Urutannya sebaiknya:

Masalah → proses → kebutuhan → solusi → teknologi.

Bukan:

Teknologi → cari masalah yang bisa diselesaikan.

Ini merupakan salah satu prinsip penting dalam digitalisasi bisnis.

Jadi, Haruskah Bisnis Baru Langsung Digital?

Tidak selalu.

Bisnis baru justru sebaiknya membangun fondasi terlebih dahulu.

Mulailah dengan memahami:

  1. Siapa pelanggan Anda.

  2. Masalah apa yang mereka hadapi.

  3. Produk atau jasa apa yang Anda tawarkan.

  4. Bagaimana cara menjualnya.

  5. Bagaimana cara mencatat transaksi.

  6. Bagaimana cara mengelola pelanggan.

  7. Bagaimana proses bisnis berjalan.

Setelah itu, Anda dapat melihat bagian mana yang mulai membutuhkan bantuan teknologi.

Dengan pendekatan tersebut, digitalisasi menjadi investasi yang memiliki tujuan jelas, bukan sekadar biaya tambahan.

Bisnis Tidak Harus Langsung Besar, Tetapi Harus Siap Bertumbuh

Menjadi bisnis owner bukan hanya tentang mendapatkan pelanggan sebanyak-banyaknya.

Anda juga perlu memastikan bisnis memiliki fondasi yang cukup kuat untuk melayani pelanggan tersebut.

Bisnis yang mendapatkan 100 pelanggan tetapi tidak mampu mengelola pesanan, keuangan, data, dan pelayanan dengan baik akan menghadapi masalah.

Sebaliknya, bisnis yang membangun proses secara bertahap memiliki peluang lebih besar untuk berkembang secara sehat.

Mulai sederhana. Catat prosesnya. Evaluasi. Kemudian gunakan teknologi ketika memang dibutuhkan.

Karena tujuan digitalisasi bukan membuat bisnis terlihat canggih.

Tujuan sebenarnya adalah membuat bisnis lebih mudah dikelola, lebih efisien, lebih terukur, dan lebih siap berkembang.

Butuh Bantuan Menentukan Langkah Digitalisasi Bisnis?

Setiap bisnis memiliki kebutuhan yang berbeda. Tidak semua bisnis membutuhkan aplikasi yang sama, dan tidak semua masalah harus diselesaikan dengan teknologi yang kompleks.

Notocoding Cipta Karya membantu bisnis dalam konsultasi digitalisasi, pengembangan software web/mobile, serta solusi teknologi yang disesuaikan dengan kebutuhan bisnis.

Jika Anda sedang merintis bisnis dan mulai menemukan proses yang sulit dikelola secara manual, langkah pertama tidak harus langsung membuat aplikasi.

Mari mulai dari memahami masalah bisnisnya terlebih dahulu, kemudian menentukan solusi yang paling tepat.

#Bisnis Pemula#Memulai Bisnis Cara Memulai Bisnis#Bisnis Owner
Bagikan artikel ini